Tag Archives: voa

Kebebasan Kreatif bukanlah Kebebasan Provokatif

oleh Dadan Suwarna

Saya sedang memisalkan bagaimana perasaan si artis Cindy Lee Gracia, seperti ditayangkan VOA 20 Sept 2O12 dengan ekspresi yang mengenaskan, sama dengan perasaan kita bersama. Ia menerima ancaman pembunuhan sejak versi pendek film itu dipasang di internet via youtube dan ia tidak dapat menemui keluarganya karena takut mereka akan dianiaya.

(Sumber: m.christianpost.com)

Dua alasan yang menyertainya adalah ditipu oleh produser Nakoula Basseley Nakoula produser film antiislam “The Innocence of Muslims” yang mengira akan tampil dalam film petualangan Mesir ternyata muncul dari serial konfrontatif kesucian seorang Rasul Allah dan si artis diteror karena itu katanya.

Saya anggap VOA objektif dalam memilah sumber dan fakta informasi. Bahwa ada film di satu sisi, juga berarti adanya reaksi di sisi lain, adalah kedua hal yang tetap disampaikan, juga pemberitaannya tentang protes MUI terhadap film itu  di VOA, 19 September 2012 (http://www.voaindonesia.com/content/mui-desak-pembuat-film-the-innocence-of-muslims-diajukan-ke-mahkamah-internasional/1510875.html).

Berita terakhir itu penting dalam menerjemahkan antitesis alasan subjektif film yang tetap harus dikritisi kelayakan karyanya. Fakta yang harus disampaikan mengenai reaksi umat Muslim adalah suara dunia yang seringkali ditepikan di balik pemberitaan media, itulah yang coba VOA sampaikan dalam konsep check and balances.

Nilai-nilai kapitalisme jualan di balik apa pun seharusnya juga mereduksi perspektif yang lain ihwal nilai kemaslahatan tontonan dengan memprioritaskan tanggung jawab profesi.

VOA tidak memberitakan penderitaan yang lain, sebut saja subjektivitas seorang Muslim yang teraniaya keyakinan spiritualnya. Hanya, kembali ke penderitaan si artis, saya mencoba berempati dalam suasana batin seorang umat Islam. Kalau keadaan itu dialami oleh keluarga si penghina Islam, saya yakin, ia akan mengantisipasi bahkan menunda pembuatan film yang melecehkan tersebut dan bahkan meneror nilai-nilai adiluhung keyakinan hampir 1 miliar lebih umat Islam. Bayangkan, meneror keyakinan 1 miliar lebih manusia, yang meyakini spirit keyakinan mereka. Dianggap tontonan adalah yang dapat mengubah prinsip-prinsip keyakinan ke arah pemurtadan versi si peleceh Nakoula Basseley Nakoula. Dianggapnya si peleceh adalah yang akan masuk sorga dengan mengatasnamakan “jihad” kreativitas tersebut.

Jujur, saya adalah yang tidak berhasrat menonton film tersebut, apalagi saya menyadari, karya atau kreativitas murahan, apalagi sensasional, akan sangat menguntungkan youtube dan si peleceh nilai-nilai keislaman itu sendiri.

Saya melihat kesadaran si artis ihwal penghinaan adalah penghinaan dan kreativitas bukanlah provokativitas. Hanya, masalahnya, kenapa pengakuan harus muncul tidak sebelum produksi pembuatan film terjadi, justru pascapembuatan ketika umat Islam berontak melakukan perlawanan. Hasrat berjihad  justru akan dipicu justru dalam melawan  nalar ilogisme Barat yang tetap tidak ramah pada Islam.

(sumebr: http://www.republika.co.id)

Saya justru lebih respek pada kesabaran umat Islam, dan itu lumayan VOA beritakan secara proporsional,  di balik kemarahan mereka di mana pun, ketika Nabi mereka yang setara dengan Nabi Isa, yang kini jadi keyakinan umat Kristiani, mengalani  justifikasi negatif yang  luar biasa.   Respek  seharusnya jadi acuan perbedaan apa pun, mengapresiasi adalah cara melakukan penghormatan kepada siapa pun.

Keliyanan, dengan demikian, adalah nilai yang sepantasnya dihargai dan dihormati sebagai cara menyelami perasaan sesama. Pentingnya kepekaan  menghargai adalah kebutuhan, kecuali bahwa kita tetap ingin menyuarakan cara pandang kita atau jangan-jangan model permusuhan kita dengan cara kita sendiri.

Ketika kita respek pada siapa pun sesungguhnya kita tengah bersimpati, sebaliknya ketika tidak, kita sesungguhnya tengah menciptakan permusuhan dengan cara kita.

Efek dari tontonan “IOM” begitu luar biasa bukan hanya hubungan antara Amerika dan Islam, tetapi juga bagaimana cara negatif Barat, yang terbatas pengetahuannya selain mencari sensasi murahan akan kebenaran Nakoula Basseley Nakoula. Ketika privasi ditelanjangi seseorang, bahkan profesi paparazi dipertanyakan, sesungguhnya kita tengah berada dalam otokritik akan kebebasan yang tidak bisa menerabas batas-batas kepantasan.

Kerja kreatif dengan demikian adalah kerja introspektif, memisalkan perasaan seseorang atau banyak orang akan sesuatu yang belum tentu kita ungkap sebagai nilai-nilai kebenaran kita.  Inilah kondisi kita saat ini ketika Barat tetap dianggap Barat dan Timur tetap dianggap Timur. Dengan demikian, mengakomodasi keinginan sendiri hanya mungkin berlaku di ruang privasi sendiri dan bukan di ruang publik kita bersama. Bahwa aturan tetap berlaku dan kebebasan adalah pertanggungjawaban profesi sebenarnya harus jadi pedoman juga dalam berkarya apa pun.

Dengan kata lain, berkesenian adalah bertanggung jawab dan tanggung jawab tidak dengan membiarkan keinginan kita lebih merdeka dengan menjajah “keinginan yang lain”. Kebebasan kreatif bukanlah kebebasan yang tanpa batas, ini penting dalam menerjemahkan film sebagai otoritas kewenangan seseorang, baik bagi produser, sutradara, hingga aktor dan aktris. Bahwa keindahan tetap menarik, justru karena ia ramah terhadap jalinan cerita, kepantasan alasan, serta acuan estetis yang diharapkan para apresiator sebagai daya pikat tontonan.

Bila norma saja harus dihargai dan dihormati, dengan demikian kreativitas bukanlah apa pun yang tanpa pertanggungjawaban sama sekali. Untuk itu, haruslah dihindari melalui kepekaan bila si artis berharap tidak dalam keadaan takut menghadapi teror ataupun youtube ditolak keberadaannya di banyak negara Islam pascafilm ini. Kedua hal tersebut  adalah  sebagai cara melawan sosialisasi yang menghalalkan segala cara itu tampaknya menjadi cara yang “maklum dilakukan” meskipun bukan kelaziman yang sepatutnya kita lakukan.

Bahwa menjadi “peace keepers” memang tidaklah mudah. Bahwa provokasi terhadap kemanusiaan dan keyakinan orang lain, apalagi dengan melecehkan, haruslah juga dibaca sebagai antitesis bahwa kebebasan bukan berarti kebablasan.  Ini penting bahwa menerjemahkan karya adalah yang sepenuhnya tidak mungkin melanggar norma bahkan keyakinan agama tertentu.

Kebebasan kreatif bukanlah kebebasan provokatif, saya kira, ini nalar logis bahwa manusia butuh pertimbangan-pertimbangan termasuk di dalamnya respek pada semua pihak. Negara-negara dengan standar ganda yang menganggap penjahat adalah teroris, sudah juga saatnya menilai siapa pun yang merusak nilai-nilai kemanusiaan dan keyakinan seseorang adalah juga sebagai teroris. Yang disalahkan dari kasus apa pun adalah dalang di balik peristiwa apa pun. Dengan demikian, siapa pun yang menciptakan masalah, tentu adalah juga manusia yang bermasalah.

Di situlah, VOA objektif dalam melihat dua keadaan si artis yang teraniaya dan umat Islam yang melakukan demo atas film tersebut.